Chapter 6 : Palembang dalam Pandangan Seorang Kafi Kurnia

Posted On September 12, 2008

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Lagi libur nih, jadi mommy punya banyak waktu buat bongkar-bongkar koleksi buku lama, jadi inget sekitar 4 tahun lalu ada satu pembahasan tentang Palembang yang pernah saya baca dalam buku Intrik : 7 Jurus Sukses karya Kafi Kurnia yang sebenernya merupakan kumpulan artikelnya di kolom Intrik majalah GATRA . Bagi yang belum sempet baca tenang mommy Kezia yang baik hati ini akan mengutipnya khusus untuk pembaca setia.

PEOPLE POWER (hal 62 s/d 64 buku Intrik : 7 Jurus Sukses) Saya baru saja keliling ke beberapa kota di Indonesia, memberikan berbagai pelatihan, sekaligus mempromosikan buku saya, Intrik. Satu hal yang tak pernah saya lupakan adalah mengumpulkan trik-trik baru dari People Power, alias kekuatan rakyat. Tak jarang, karena berhunbungan langsung dengan survivalnya, kiat mereka mirip jurus pemasaran global yang kit abaca di berbagai buku kuliah. Kunjungan saya terakhir adalah ke Palembang. Menurut teman-teman di situ, kota ini miskin hiburan. Makan pun jadi hiburan. Ada jalan yang dipenuhi tukang martabak. Ada pula yang dipenuhi tukang gorengan. Sering jumlahnya luar biasa banyak, membuat kita heran dan kagum. Di lapangan dekat stadion Olahraga Palembang berkumpul lebih dari 100 tukang nasi goring. Saya kagum. Barangkali itulah kawasan makanan tradisional paling unik di Indonesia. Semuanya berjualan nasi goring. Inilah yang disebut trik captive market: pedagang yang komoditasnya sama berkumpul menciptakan magnet yang besar. Pilihan yang alternatifnya banyak membuat konsumen bergairah datang. Menu nasi goring yang sederhana membuat semua orang dari golongan mana pun bisa datang berkunjung. Tempat penjualannya di Lapangan terbuka sangat ideal untuk parker. Tak mengherankan bila lokasi ini digemari untuk ketemu, ngobrol, cuci mata, dan pamer mobil. Murah meriah. Di antara para penjual nasi goring tak ada praktek curang. Semua bersaing dengan jurus global competitive advantage yang mengandalkan jaringan pelanggan mereka yang setia, atau networking. Fenomena unik berikutnya saya temukan di jalan Radial, yang terkenal dengan gorengannya, makan iseng untuk malam hari. Karena lokasi mereka di pinggir jalan, kebanyakan konsumen hanya membeli untuk dibawa pulang. Keleluasaan konsumen memilih menjadi sangat singkat, sehingga jelas memerlukan strategi berbeda. Karena kebanyakan gerobak tidak memiliki merek dan sifatnya generic, merek memerlukan umpan emosional yang beda. Trik mereka sederhana. Sebagai umpan emosi, percaya tidak atau tidak, mereka memajang wanita muda sebagai sales promotion girl. Konsumen umumnya berhenti di gerobak tertentu, karena melihat kecantikan si cewek tadi. Trik ini pernah di tulis di sebuah surat kabar karena terlihat sensasional dan sedikit berbau mesum. Namun, saya yang melihat dan mengalaminya melihat trik ini sebagai sebuah terobosan promosi cerdik dan inovatif. Itulah strategi branding dalam bentuk paling primitive tapi jitu. Umpan emosi yang diterapkan jelas menjadi mercu suar bagi konsumen untuk menentukan pilihannya. Sudah lama Palembang dikenal dengan pempek dan pindangnya. Yang membuat saya kagum adalh semangat inovasi yang diterapkan para palku bisnis untuk menciptakan kreasi-kreasi baru. Entah ada berapa macam pempek yang beredar di pasaran. Dari yang rebus, goring, sampai panggang. Saus dan kuahnya juga bermacam-macam. Mulai dari yang klasik dengan cuka hingga yang kontemporer bersantan. Inovasi adalah evolusi dan adaptasi sekaligus. Demikian juga dengan makanan khas mereka, yaitu pindang. Tak ada produk makanan yang tidak di pindang. Ketika saya di Palembang, Indomie sedang meluncurkan mi instant rasa pindang. Luar biasa sambutannya. Dibeberapa kotakecil di Sumatera Selatan, Indomie rasa pindang terbukti sukses. Indomie menerapkan strategi popular : “Think global! Act local!” Jelas sudah di kala kamum elite politik sibuk dengan perseteruan politik mereka, rakyat tetap sibuk dengan inovasinya. Teman saya menyitir sebuah kalimat dalam bahas inggris yang indah : “In Palembang entreprenership is very much alive and kicking! Who needs corporation?” Saya mengganguk setuju. Di Palembang terbukti sudah, people power berjaya!

Chapter 5 : Only 45 Minutes from Jakarta

Posted On July 25, 2008

Filed under Uncategorized

Comments Dropped 3 responses

Judul di atas pas banget buat jawab pertanyaan-pertanyaan seperti :

  • Palembang jauh nggak sih?
  • Kalo naek pesawat ke Palembang kira-kira berapa lama perjalanannya?

Yang suka diajukan oleh orang-orang yang sama sekali belum pernah menghirup udara Palembang.

Sekarang transportasi ke Palembang udah banyak pilihannya, bandara Sultan Mahmud Badaruddin II yang kami miliki juga udah bertaraf internasional, so rute penerbangan langsung ke Palembang udah bukan cuma dari wilayah-wilayah domestic, tapi ada juga yang dari luar negeri seperti rute Kuala Lumpur – Palembang milik Air Asia, tarifnya mulai dari 300 ribuan saja kalo Low Season or sekitar 500 ribuan kalo udah deket-deket liburan, nggak beda jauh sama tarif rute Jakarta – Palembang.

Masih ada jenis-jenis angkutan lain nih untuk bisa mengagumi Sunset di Benteng Kuto Besak di tepian sungai Musi, yang hanya sepenglihatan jauhnya dari Jembatan Ampera yang melegenda itu. Contoh nih pas saya ke Palembang selepas tamat SMA ditahun 1999, saya lebih memilih menggunakan bis DAMRI, kalo sekarang yang ada fasilitas AC-nya bertarif sekitar 200 ribuan, kalo yang ekonomi alias non AC kemungkinan hanya sekitar 125 ribuan, menangnya naik bis kota ya murahnya itu, tapi kalo kamu Cuma punya waktu sedikit buat traveling bagusnya naik peswat aja kali ya? Habis kalo naik bis, berangkat jam 2 siang baru sampe sekitar jam 4 subuh so memakan waktu sekitar 14 jam-an

Naek kereta api juga bisa sih tapi karena saya belum pernah coba, jadi saya nggak bisa cerita terlalu banyak, yang pasti stasiun kereta yang dimiliki oleh Palembang terletak di daerah Kertapati, tarif kereta eksekutif sekitar 90 ribuan itu baru sampe lampung lho, kamu mesti sambung ke pelabuhan Bakauheni dengan bekal uang 30 sampe 40 ribuan menggunakan travel atau bis DAMRI, trus sambung lagi dengan nyebrang ke Pelabuhan Merak sekitar 15 ribuan, yang repot karena harus nek-turun dan sambung menyambungnya itu.

Kalo saya sih nyaraninnya pilihlah diantara 3 opsi di atas, tapi kalo kamu rela masuk angin sampe kembung, terus bekas kerokan bertahan di punggung sekitar 1 mingguan, pinggang serasa mau patah, dan koyo cabe selalu setia menemani, boleh juga pilih opsi keempat yaitu naek motor rute Palembang-Jakarta.

Yang enak sih kalo bisa dapetin contact personnya Clark Kent alias si Superman, tinggal minta digendong ajah sama dia, udah murah, cepet, ada peluang bisa cinta lokasi lagi, hehehehehehe (ado-ado be!) Atau kalo kamu punya waktu liburan yang sangaaaat panjang, boleh juga dicoba opsi terakhir dari saya : Jalan Kaki, yang perlu disiapkan hanya sepatu serep, topi, temen seperjalanan, aer minum dan sepasang kaki gatot kaca yang menurut alkisah otot kawat-tulang besi itu lho, cari aja di toko siapa tauh lagee diskon, hehehehehe….

Chapter 4 : The True Story About Pempek Continued

Posted On July 24, 2008

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Terima kasih atas kesabaran anda menunggu posting lanjutan saya tentang Pempek, meski ada beberapa yang saya yakin agak-agak greget kenapa sih mesti dibagi menjadi 2 bagian? Jawabannya saya serahkan kepada rumput yang bergoyang, hehehe.

Lanjuut…., bentuk-bentuk selanjutnya dari Pempek adalah :

  1. Pempek kates, proses pembuatannya sama aja kayak pempek telok tapi bedanya diisi sama papaya yang di iris hlus trus ditumis dengan ebi
  2. Pempek bulet, sesuai dengan namanya bentuk pempek yang satu ini mirip sama bola bekel alias bulet a.k.a bunder adonannya juga agak beda karena ditambahin sam terigu, dan daun bawang, so rasanya agak mirip-mirip sama otak-otak
  3. Pempek kulit, menggunakan bagian kulit ikan yang dihaluskan so warnanya bisa dijamin agak gelap dan biasanya digoreng sampai garing
  4. Pempek dos, berbeda dari yang pempek lain adonan pempek yang satu ini sama sekali gak pake ikan campurannya hanya terdiri dari sagu dan terigu, biasa dibentuk mirip dengan pempek telok, dan jelas dijual dengan harga yang lebih murah

Next is cara menyajikan pempek : biasanya setelah dibentuk sesuai selera pempek kemudian direbus ke panci penuh air mendidih trus ditunggu deh sampe mengapung (artinya udah mateng), biasanya pempek sudah bisa langsung disantap tapi boleh juga setelah direbus pempek kemudian digoreng sehingga lebih garing.

Hampir disetip sudut kota Palembang ada penjual pempek, mulai dari bentuknya toko, warung, atau penjual keliling (ada yang pake sepeda dengan kotak kaca penuh pempek di belakangnya, atau juga yang pake rantangan yang dijinjing pake tangan) semuanya sama-sama enak dan punya keunikkan masing-masing, harganya juga bervariasi mulai dari 500 rupiah sampe 2500 rupiah(yang termahal yang pernah saya makan) untuk pempek ukuran kecil, dan 5000 rupiah sampe 15.000 rupiah untuk pempek lenjer dan telok ukuran besar (yang biasa disebut pempek kapal selem).

Any of you guys wonder kenapa namanya pempek? Well here’s a story soal asal-usul nama pempek, katanya jaman dahulu saking dulunya sampe nggak ada yang inget tahun berapa, yang pertama kali membuat pempek tuh orang keturunan Cina, cara jualnya keliling oleh seorang bapak, kan kalo panggilan orang Tionghoa buat bapak-bapak tuh ‘mpek’ setara dengan paman gitu lah…, truss orang yang mau beli kalo bapak itu suka lewat suka panggil “mpek..mpek sini dong mau beli!” jadi deh makanan tersebut terkenalnya dengan sebutan Pempek.

Chapter 3 : What is Pempek?

Posted On July 23, 2008

Filed under Uncategorized
Tags:

Comments Dropped one response

My Beautifull city Palembang (i’m definetely sure Palembang is a city not a country, thanx God i’m not in Jetlag Mode On like former miss Indonesia Nadine did), hua…huachu, ngomong opo to mba? Anyway, semua orang pasti setuju kalo salah satu yang membuat Palembang terkenal tuh pempeknya, nah karena saya ini orang baik hati yang mau kotanya dikenal sampe ke luar negeri saya kan harus dengan rajinnya cari kesana-sini opo sih bahasa inggrisnya “Pempek”? supaya mereka yang blonde, red hair, white hair, grey hair or another coloured hair tuh ikutan bisa ngebayangin legitnya Pempek, oncaknyo kota Palembang.

Ternyata pemirsa yang budiman, saya melaporkan langsung dari ruangan kantor saya yang ber-AC dan sedikit berantakan, bahasa internasional untuk Pempek kita tercintah adalah …. FISH CAKE!, gedubrak (suara orang terjatuh dari kursi), glutuk-glutuk (suara hape terjatoh dari kantong terus ngegelinding di lantai), kok kue ikan sih? Emang pempek dikategorikan sebagai kue ya? Apa kata duni kalo pempek dikategorikan sebagai kue, bagaiman dengan nasib cuko kito yang nota bene pasangan sehidup semati si Pempek? Dari mana dasarnya ada kue yang cara makannya harus dicocol ke cuko? Hiks, dengan rasa yang sangat tidak rela, saya mencoba mengungah hati saudara-saudara untuk bersama-sama memikirkan The Exact Word for Pempek.

Nah buat serous part-nya nih, Pempek adalah makanan khas Palembang yang terbuat dari bahan dasar ikan giling (disarankan ikan gabus, supaya hasilnya bersih, tidak amis dan bertekstur lembut) di uleni dengan sagu putih terbaik, air es garam dan penyedap rasa. Cara memakannya yang khas adalah mencelupnya ke dalam cuko, berbeda dengan cuka makan yang berwarna putih bening dan kecut, cuko dalam hal ini terbuat dari gula merah, cabe rawit dan bawang putih yang dihaluskan, rasa larutan ini sedikit manis, pedas, asam menyegarkan. Saking membudayanya pempek, kami menjadikannya sebagai salah satu menu sarapan pagi (meski pempek bisa dinikmati kapan saja, dimana saja, dan dengan siapa saja!), dan cara mengkonsumsi cuko-nya bukan lagi sekedar dicelupkan, tapi DIHIRUP, slurpp… ah lemak nian rasonyo (enak buanget gitu lho!).

Setelah adonan pempek pulen, ada beberapa bentuk pempek yang bisa kita buat, diantaranya :

  1. Pempek lenjer, berbentuk batangan seperti bilah bambu yang lenjer besak diameternya sekitar 5 cm dengan panjang sekitar 20 cm, dan yang lenjer kecik diameternya sekitar 2 cm dengan panjang sekitar 9 cm.
  2. Pempek telok, adonan dibentuk menyerupai mangkuk lalu tengahnya diisi dengan telur, kemudian dirapatkan lagi, pempek isi telur ini merupakan favorit banyak orang
  3. Pempek krupuk, bentuknya seperti kerupuk mirip tali-temali yang bertumpuk, atau mungkin putu mayang merupakan gambaran bentuk yang bisa mendeskripsikannya …

to be continued … to the next Chapter

Chapter 2 : Dreams Comes True

Posted On July 17, 2008

Filed under Uncategorized

Comments Dropped 2 responses

Setelah beberapa hari mencari ide mengenai topik yang mau saya angkat di posting kedua ini, finally saya memutuskan untuk menjabarkan tentang aljabar! Lho kok?! Hehehe just kidding deh, yang jelas pembahasan kali ini adalah mengenai apa sih tema dari mommynyakezia.wordpress.com?

Question # 1 : Apakah mengenai tips merawat bayi?

Answer : No, because saya aja masih perlu banyak belajar soal ini

Question #2 : Apakah mommy mau menuliskan resep-resep pilihan?

Answer : Masak aja jarang! Gimana mau nulisin koleksi resep?

Question #3 : Oh pasti blognya untuk nyimpen puisi-puisi atau lirik lagu!

Answer : Masa-masa itu sudah lewat kawan, that was things that I do when I’m
still at the junior high school

Hoykeh dari pada ngalor-ngidul nggak jelas saya langsung aja menceritakan mau dibawa kemana blog ini nantinya.

Sedikit flashback (terdengar sayup-sayup alunan musik lembut yang membangun suasana) hampir 2 tahun yang lalu saya membuat wishlist, and as you can see pada poin terakhir dari ke-26 wishlist saya adalah membuat posting about palembang, soal tempat-tempat nongkong, soal keunikkan kota pempek ini, dan soal budaya nya, harapan saya blog ini nantinya bsa dijadikan acuan buat mereka yang mau berkunjung ke Palembang karena ditugaskan atau karena harus menghadiri undangan, atau mereka yang sedang mencari tempat pelarian dari suasana keseharian yang sudah mulai terasa membosankan. Hope it can support misi pemerintah setempat dalam Visit Musi 2008 juga.

Gimana pembaca setujukah anda dengan misi saya ini? Leave your comment ya…

Chapter 1 : Who am I?

Posted On July 10, 2008

Filed under Uncategorized
Tags: ,

Comments Dropped 4 responses

Tenang aja saudara-saudari ku, this posting is not about Jckie’s chan Movie yang udah beberapa kali muncul di TV (salah satunya karena aku nggak pernah dapet kesempatan nonton film itu sampe habis🙂, anyway guys this post dibuat untuk menjawab pertanyaan kalian, siapa si The author of mommynyakezia.wordpress.com itu? Kok postingannya selalu aja mengena! ( nantinya ;p ) So let me introduce my self, many people call me rieka, some of them also call me nov, kenapa begitu? Ya karena nama lengkap saya Noverika, dan hanya sekitar kurang dari 3 orang yang dengan setia memanggil-ku RIRI (salah satunya suamiku) dan dengan ramahnya saya akan selalu menoleh ke arah sumber suara yang meneriakkan ketiga panggilan tersebut (walo terkadang malu karena GR sendiri! secara yang punya nama Rika di Indonesia ini sekian juta orang).

Dan buat para bujang, maupun duda yang membuka blog saya ini dengan harapan menemukan seorang calon istri yang pinter mengarang sekaligus jago IT, sebelumnya dan sesudahnya saya mohon maaf, dikarenakan saya sudah mengucapkan yes i do hampir dua tahun lamanya ketika seorang Jejaka meminta saya jadi istrinya.

Serta buat pencari barang-barang gratisan dari internet, yang sudah berkali-kali mencoba ikut kuis tapi gak pernah dapet kiriman hadiah ke depan pintu rumahnya, SELAMAT! Anda membuka halaman yang tepat, karena ke depan rencananya saya akan membagikan secara cuma-cuma mulai dari buku, baby’s stuff, dan kisah humor, kepada para pengunjung blog saya ini, baik mereka para pembaca setia sampai kepada mereka yang hanya numpang lewat (dengan games tertentu), dan jangan juga khawatir soal ongkos kirim a.k.a ongkir cause saya juga yang dengan dermawannya menanggung semua beban itu!

itu dulu aja untuk chapter one, bab-bab selanjutnya akan segera diterbitkan, tanpa anda harus mengantri sambil bergadang di depan toko buku untuk membacanya!

Hello world!

Posted On July 10, 2008

Filed under Uncategorized

Comments Dropped 2 responses

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!